Rabu, 16 Mei 2012

PANGAN DAN GIZI

III. UKURAN RUMAH TANGGA (URT) DAN BERAT DAPAT DIMAKAN
I. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum acara “Ukuran Rumah Tangga (URT) Dan Berat Dapat Dimakan (BDD)” adalah:
a. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis URT dan konversinya ke satuan bahan pangan yang lebih umum.
b. Mahasiswa mengetahui cara penetapan BDD dan besarnya BDD dari beberapa bahan pangan.
II. Tinjauan Pustaka
Tidak semua bagian sayuran dan buah-buahan dapat dimakan untuk memperhitungkan jumlah bagian yang termakan dan yang terbuang dari sayuran dan buah-buahan perlu diketahui jumlah bagian yang biasa dimakan (edible portion) dari sayuran dan buah-buahan tersebut. Hal ini penting diketahui dalam perhitungan rendemen produksi hasil olahan sayuran dan buah-buahan (Anonim, 2009). Berat dapat dimakan dihitung dengan rumus :
Edible Portion (BDD) = W bagian yang dapat dimakan x 100 %
-------------------------------------------
W utuh sayuran
Buah-buahan dan sayuran, jika mereka tidak akan dimasak, harus dibuang jika mereka telah menyentuh daging mentah, unggas, makanan laut atau telur. Semuanya dipotong, dikupas, atau buah-buahan dan sayuran yang dimasak harus didinginkan dalam waktu 2 jam. Setelah waktu tertentu, bakteri berbahaya dapat tumbuh pada mereka dan meningkatkan risiko keracunan makanan (Wikipedia, 2012).
Tepung ubi jalar dapat dibuat secara langsung dari ubi jalar yang dihancurkan dan kemudian dikeringkan, tetapi dapat pula dibuat dari gaplek ubi jalar yang dihaluskan (digiling) dan kemudian diayak (disaring). Pembuatan tepung ubi jalar dilakukan dengan cara pengeringan/penjemuran irisan tipis daging ubi jalar yang telah dikupas dan dicuci bersih. Keberadaan benda asing dalam produk tidak diperkenankan karena dapat berakibat fatal, yaitu hilangnya kepercayaan dari pihak konsumen. Adanya benda-benda asing mencerminkan kecerobohan dan pelaksanaan kerja yang tidak higienis. Yang dimaksud dengan benda-benda asing adalah berbagai kotoran misalnya tanah, pasir, kerikil, rambut, ataupun sisa kulit umbi (Ambarsari, 2009).
Berat dapat dimakan pada pare adalah 77%. Pare digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional untuk menyembuhkan beberapa penyakit (Rukmana, 2005).
Daftar Ukuran Rumah Tangga sering digunakan dalam perencanaan konsumsi pangan dan pengumpulaan data konsumsi pangan yang sering dilakukan melalui survey maupun konsultasi gizi. Metode ini sangat dipengaruhi oleh keahlian enumerator dalam menggali informasi atau data yang diperlukan dan ketetapan menaksir jumlah pangan dari URT ke satuan berat yang lebih umum (Handayati, 2008).
Pembuatan sponge cake sangat membutuhkan pengukuran yang akurat karena salah mengukur bahan dapat menyebabkan kegagalan secara menyeluruh pada kue yang dibuat. Sendok takar beerbeda dengan ukuran sendok sehari-hari (Gayo, 2008).
Alat ukur: timbangan, gelas ukur, dan sendok ukur seperti halnya dalam pembuatan kue pada umunya, dalam pembuatan bluder juga dibutuhkan pengukuran yang tepat. Bila memungkinkan gunakan timbangan digital karena lebih akurat dan dapat mengukur hingga skala kecil. Gelas ukur diperlukan untuk menakar bahan cair dengan tepat. Sendok ukur digunakan untuk menakar bahan dalam jumlah kecil missal garam. Gunakan sendok ukur bukan sendok rumah tangga, karena kesesuainya mempunyai perbedaan ukuran (Ananto, 2010).
Daftar bahan makanan dinyatakan dalam dua ukuran yaitu gram (g) dan Ukuran Rumah Tangga (URT) untuk memudahkan penggunaan. Dalam satuan URT 1 gelas sama dengan 50 g (Sandjaja, 2009). Energi merupakan pusat untuk menujukkan banyaknya perkembangan persangan global. Hubungan antara energi dan perkembangan tujuan global (MDGs) telah didiskusikan secara ekstinsif di literatur dan kekuranag energi mengurangi pencapain mereka (Nussbaumer, 2011).
Angka kecukupan gizi (AKG) adalah tingkat konsumsi zat-zat gizi essensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat di suatu negara. AKG untuk Indonesia didasarkan atas patokan berat badan untuk masing-masing kelompok menurut umur, gender, dan aktivitas fisik yang ditetapkan secara berkala melalui survei penduduk (Almatsier, 2004).
III. Alat Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. Ukuran Rumah Tangga (Sendok, Piring, Gelas, Mangkok).
b. Timbangan.
c. Pisau.

2. Bahan pangan sumber zat gizi utama:
a. Bahan pangan sumber karbohidrat (beras/nasi, terigu, dan olahanya, jagung, umbi-umbian).
b. Bahan pangan sumber protein (daging, ikan, telur, tahu, tempe, kacang hijau, kacang kedelai).
c. Bahan pangan sumber lemak(lemak, minyak, kacang tanah).
d. Bahan pangan sumber vitamin dan mineral (sayur-sayuran dan buah).
3. Cara Kerja
a. URT






b. BDD


















IV. Data Hasil Pengujian
Tabel 3.1 Ukuran Rumah Tangga dan Berat Dapat Dimakan.
No Bahan Pangan Berat Awal Sebelum Dipotong Berat
URT BDD
1. Kedelai Kering 110,98 110,98 98,80
2. Singkong 550 350 300
3. Kacang tanah 260 260 175
4. Pisang Ambon 75 75 65
Perhitungan:
BDD Kedelai kering = Berat Dapat Dimakan (g)/berat total*100%
= 98,80 /110,98 * 100%
= 89,03 %
BDD Singkong = 300 / 350 * 100%
= 85,71 %
BDD Kacang tanah = 175 / 260 * 100%
= 67,31 %
BDD Pisang Ambon = 65 / 75 * 100 %
= 86,67 %
V. Pembahasan
Status gizi merupakan satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Status gizi juga akan mempengaruhi produktifvitas manusia, sehingga dengan status gizi yang baik akan didapatkan kualitas hidup manusia yang tinggi. Untuk mencapai status gizi penduduk yang baik diperlukan upaya perbaikan konsumsi pangan penduduk dan pencegahan timbulnya infeksi penyakit. Perbaikan konsumsi pangan berarti meningkatkan jumlah pangan dan zat gizi yang dikonsumsi. Jumlah masing-masing zat gizi yang dikonsumsi dapat diketahui melalui kegiatan penilaian konsumsi pangan, sedangkan untuk mengetahui atau merancang susunan konsumsi pangan atau makanan yang memenuhi kebutuhan atau kecukupan gizi tubuh, diperlukan kegiatan perencanaan konsumsi pangan.
Ukuran Rumah Tangga merupakan ukuran yang lazim digunakan di rumah tangga sehari-hari untuk menaksir jumlah pangan yang dikonsumsi atau dimasak. Satuan Ukuran Rumah Tangga (URT) diperoleh dari jenis peralatan makanan yang biasa digunakan di rumahtangga seperti piring, gelas, sendok, mangkok. BDD dapat digunakan biasa digunakan dalam metode Survei konsumsi untuk mengetahui berat sebuah pangan. Berat Pangan yang dimaksud adalah berat neto dari pangan setelah dikurangi berat pembungkus atau bahan yang tidak terkait dengan pangan. Digunakan untuk menaksir jumlah bahan pangan ke dalam gram & volume dalam liter. Digunakan dalam pengumpulan data konsumsi pangan secara recall Secara praktis & cepat dapat memperkirakan jumlah bahan pangan, walaupun agak kasar Caranya adalah dengan menimbang berat sayuran dan buah-buahan utuh, lalu pisahkan bagian yang biasa dimakan dengan yang tidak, kemudian timbang kembali bagian yang dapat dimakan, lalu hitung edible portionnya (BDD).
Tidak semua bagian sayuran dan buah-buahan dapat dimakan untuk memperhitungkan jumlah bagian yang termakan dan yang terbuang dari sayuran dan buah-buahan perlu diketahui jumlah bagian yang biasa dimakan (edible portion) dari sayuran dan buah-buahan tersebut. Hal ini penting diketahui dalam perhitungan rendemen produksi hasil olahan sayuran dan buah-buahan.
BDD Kedelai kering adalah 89,03 %, BDD Singkong: 85,71 %, BDD Kacang tanah: 67,31 %, BDD Pisang Ambon: 86,67 %. Berdasarkan data diatas nilai BDD Kedelai kering adalah terbesar, kemudian Kacang tanah mimiliki nilai terkecil.
Jenis URT yang digunakan untuk kacang-kacangan adalah sendok dan biji. Ketidak konsistenan hasil pengukuran berat disebabkan oleh bervariasinya penyusun kacang-kacangan, seperti variasi kadar air menyebabkan perbedaan berat dan volume kacang uang diukur. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi penyimpanan yang tidak seragam.umur ketika dipanen juga mempengaruhi berat dan kualitas dari kacang-kacangan. Kacang yang dipanen sudah tua maka berat dari kacang-kacangan lebih tinggi dibanding dipanen ketika umurnya masih muda.
Kelebihan dari penggunaan daftar Ukuran Rumah Tangga menjadi satuan berat (g). kesulitan ataupun kekurangan dari Ukuran Rumah Tangga adlah belum adanya standardisasi URT di Indonesia sehingga ada kemungkinan beberapa jenis URT berbeda ukuranya setiap daerah. Bervariasinya komponen dan jumlah penyusun yang membentuk suatu jenis pangan menyebabkan nilai hsil pengukuran menjadi tidak konsisten. Meskipun jenis panganya sama dan jenis penyusunys juga sama namun jumlah atau kualitas dari masing-masing penyusunya berbedaa akan memberikan hasil yang berbeda pula ketika diukur berat dan volumenya, missal kadar air yang terkandung dalam suatu bahan pangan menyebabkan berat dari bahan pangan menjadi berbeda.



VI. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Ukuran Rumah Tangga merupakan ukuran yang lazim digunakan di rumah tangga sehari-hari untuk menaksir jumlah pangan yang dikonsumsi atau dimasak.
2. BDD dapat digunakan biasa digunakan dalam metode Survei konsumsi untuk mengetahui berat sebuah pangan.
3. BDD Kedelai kering adalah 89,03 %, BDD Singkong: 85,71 %, BDD Kacang tanah: 67,31 %, BDD Pisang Ambon: 86,67 %.
4. Ketidak konsistenan hasil pengukuran berat disebabkan oleh bervariasinya penyusun kacang-kacangan, seperti variasi kadar air.
5. Kelebihan dari penggunaan daftar URT menjadi satuan berat (g).
6. Kesulitan ataupun kekurangan dari Ukuran Rumah Tangga adalah belum adanya standardisasi URT di Indonesia sehingga ada kemungkinan beberapa jenis URT berbeda ukuranya setiap daerah.




















DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Gramedia: Jakarta.
Ambarsari, Indrie. 2009. Rekomendasi Dalam Penetapan Standar Mutu Tepung Ubi Jalar. Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah: Ungaran.
Ananto, Diah Surjani. 2010. Bluder Roti Lezat Legendaris. Gramedia: Jakarta.
Anonim. 2004. Zoologi & Botani Praktis. http://pendakierror2.bravehost.com. Diakses Tanggal 16 Maret 2012.
Anonim. 2009. Rumus dan Cara Menghitung Edible Portion pada sayuran. http://tutorialkuliah.blogspot.com. Diakses Tanggal 16 Maret 2012.
Gayo, Iwan. 2008. Buku Pintar seri senior. Grasindo: Jakarta.
Handayati, Setyo dkk. 2008. Konversi Satuan Ukuran Rumah Tangga Kedalam Sautan Berat (gr) Pada Beberapa Jenis Pangan Sumber Protein. Jurnal Gizi dan Pangan. FAPERTA IPB
Nussbaumer, Patrick .2011. Measuring Energy Poverty: Focusing on What Matters. Oxford Department of International Development. Queen Elizabeth House (QEH), University of Oxford
Rukmana, Rahmat. 2005. Bertanam Sayuran di Pekarangan. Kanisius: Yogyakarta.
Sandjaja, Atmarita. 2009. Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga. Gramedia: Jakarta.
Wikipedia. 2012. Sayuran. http://wikipedia.com. Diakses Tanggal 16 Maret 2012.























LAPORAN PRAKTIKUM PANGAN DAN GIZI









Disusun Oleh Kel. 04:

1. Bayu Purnawan (H3111011)
2. Fahrudin Arrozi (H3111024)
3. Anjani (H3111007)
4. Hanik Tri. W (H3111032)
5. Rohana (H3111058)
6. Nawang Wulan (H3111046)
7. Slamet Sri Widodo (H3111061)
8. Multazimul Haq (H3111061)







LABORATORIUM REKAYASA PROSES DAN PENGOLAHAN PANGAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012








Tidak ada komentar:

Posting Komentar